logoblog

Cari

Tutup Iklan

Sarjana Kelapa

Sarjana Kelapa

KM. Sukamulia – Atas rahmat Allah SWT dan atas tekat yang kuat, Sa’id dapat menyekolahkan tiga orang putranya hingga mendapatkan gelar

Cerita Inspirasi

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
18 Desember, 2014 01:43:35
Cerita Inspirasi
Komentar: 10
Dibaca: 6502 Kali

KM. Sukamulia – Atas rahmat Allah SWT dan atas tekat yang kuat, Sa’id dapat menyekolahkan tiga orang putranya hingga mendapatkan gelar S1 padahal jika dilihat dari sisi ekonomi, beliau adalah orang biasa. Sa’it hanya memiliki kebun seluas 40 are dan kebun itu hanya berisi 86 pohon kelapa yang biasa dipanennya sekali dalam dua bulan, hanya itulah sumber penghasilan Sa’it dan keluarganya. Setiap panen, paling-paling beliau hanya mendapatkan 500 hingga 700 butir kelapa dan dengan hasil itulah beliau membiaya hidup istri dan 6 orang anaknya. Namun demikian, penghasilan yang diperoleh dari kelapa itu dapat ia gunakan sebagai biaya pendidikan tiga orang putranya yang ketiga-tiganya sudah menyandang gelar Sarjana Pendidikan.

Menyekolahkan anak hingga sarjana bukanlah hal yang gampang, lebih-lebih jika kita berasal dari golongan ekonomi menengngah ke bawah. Untuk mencetak seorang sarjana dibutuhkan modal yang cukup. Tekad yang besar jika tidak dibarengi dengan biaya yang cukup juga tidak akan mumpu mengantarkan seseorang menuju tempat wisuda. Demikian sebaliknya, biaya berkecukupan namun tekad atau keinginan tidak ada maka kita juga tidak akan mungkin sampai di panggung penyematan gelar sarjana. Dengan demikian maka untuk mencapai suatu tujuan, misalnya saja sarjana strata satu maka dibutuhkan tekad/keinginan dan modal yang berkeseimbangan.

Banyak anak-anak orang kaya yang tidak mampu menyelesaikan sekolahnya hingga mendapatkan gelar S1 dan sebaliknya tidak jarang anak-anak orang kurang berada yang mampu mendapatkan gelar S1. Salah satu contoh orang kurang berada yang mampu menyekolahkan anaknya hingga mendapa gelar sarjana adalah Sa’it. Sosok orang tua yang bernama Sa’it ini membuat warga kampungnya heran sebeb dengan kebun yang hanya berisi 40 pohon kelapa, ia dapat menyekolahkan 4 orang anaknya dan pada tahun 2014 ini, 3 orang putranya (Asri, Badri, dan Sahlim) sudah menyandang gelar Sarjana Pendidikan dan anaknya yang paling kecil (Sahni) sebentar lagi akan lulus SMA.

Warga Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur dan sekitarnya seolah-olah tidak percaya dengan hal itu dan bahkan banyak orang yang mengira bahwa Sa’it mampu menyekolahkan anak-anaknya sebab ia ngutang di sana-sini dan tumpukan hutangnya itu tidak akan bisa terlunasi. Namun Sa’it dan istrinya (Sahrim) tidak pernah menghiraukan isu-isu seperti itu, beliau hanya tersenyum sebab kenyataannya beliau tidak punya hutang besar hingga ketiga putranya itu diwisuda, ea kalau hutang seratus hingga dua ratus ribu sih beliau memang punya.

Sa’it memiliki 4 orang putra dan 2 orang putri, putra pertamanya hanya tamat SMP dan tidak mau melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dan anak itu kemudian kawin diusia muda demikian juga dengan putrinya (anak ketiga). Beliau bertekad untuk menyekolahkan putranya yang kedua (Asri) yang kemudian diikuti oleh adik-adiknya. Di tahun 2003, Asri menamatkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Aikmel dan Sa’it memaksa putra keduanya itu untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah yang meskipun anak itu sempat menolak keinginan ayahnya dengan alasan ayahnya tidak akan mampu membiaya kuluiahnya. Namun dengan kegigihannya Sa’it terus memaksa putra keduanya itu dan ahirnya Asri masuk di STKIP Hamzanwadi Selong dengan mengambil Program Studi Sejarah .

Tahun 2005, Sa’it mengirim putra ketiganya (Badri) untuk melanjutkan sekolah di SMA NW Pancor dan tahun berikutnya (2006) beliau mengirim putra keempatnya (Sahlim) melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 1 Selong. Ketiga orang putranya itu tinggal satu kos dan mereka dibekali dengan perbekalan seadanya. Ketiga orang putranya itu pulang mengambil bekal sekali dua minggu secara bergiliran, setiap pulang putranya hanya dibekali beras 5 kg, sayur, minyak, dan uang sebesar Rp. 40.000 untuk jatah mereka bertiga selama dua minggu.

Bekal 5 kg beras dan uang yang hanya Rp. 40.000 tidak mungkin cukup untuk biaya mereka bertiga selama dua minggu. Pada saat itu ongkos Angkutan Umum dari Pohgading sampai Pancor adalah 10.000, dengan demikian uang yang ia bawa sampai kos hanyalah 30.000. Sesampai di kos uang itu digunakan untuk membeli minyak kompor dan paling-paling sisanya hanya 20.000, kemudian Rp. 10.000 mereka simpan untuk ongkos pulang dua minggu kedepan dan uang sepuluh ribu itulah yang menjadi bekal mereka selama dua minggu. Namun demikian mereka tidak pernah mengeluh dan menuntut supaya orang tuanya memberikan mereka tambahan uang belanja.

Ketiga orang anak itu sadar betul akan keadaan orang tua mereka, untuk itulah mereka berusaha untuk mencukupi kebutuhan mereka selama di kos dengan mencari pekerjaan untuk mengisi waktu luang mereka. Beberapa orang warga di sekitar kos anak ini kebetulan memiliki kebun kelapa dan karena sering berkomunikasi dengan ketiga orang anak tersebut maka mereka mengetahui bahwa anak-anak itu punya keahlian memanjat pohon kelapa sebab itulah warga sekitar kerap menyuruh ketiga orang anak itu memetikkan mereka kelapa yang ada dikebun mereka. Ahirnya ketiga orang anak itu bekerja sebagai tukang petik kelapa. Untuk memanjat satu pohon kelapa mereka mendapatkan upah sebesar Rp. 4.000.

Selain memetik kelapa, warga sekitar juga sering menyuruh ketiga orang anak itu mengupas kulit kelapa/memanges, persatu biji kelapa mereka diuapah dengan uang sebesar 250 rupiah. Upah memanjat dan mengupas kelapa itulah yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan mereka selama di kos. Ketika liburan sekolah, ketiga orang anak itu memanfaatkan waktunya untuk beburuh manges (mengupas kulit kelapa) dan ngopra di gudang kelapa yang ada di dekat kediaman orang tua mereka. Untuk mengupas satu butir kelapa di gudang kelapanya Haji Rini itu, mereka hanya mendapatkan upah sebesar 100 rupiah. Biasanya mereka mengambil upah pada saat selesai liburan/waktu akan kembali ke kos.

Warga kampung mereka (Dusun Sukamulia) salut melihat ketekunan dan kegigihan ketiga orang anak itu karena mereka tidak pernah gengsi untuk bekerja sebagai buruh sebab sebagian anak-anak sekolah di kampung itu gengsi untuk menjadi buruh, lebih-lebih jika mereka sudah duduk di bangku SMA atau bangku Perguruan Tinggi. Namun harus baagaimana, ketiga orang anak ini tidak bisa mengandalkan belanja dari orang tuanya sebeb orang tua mereka hanya mendapatkan uang dari hasil panen kelapanya yang dipanen setiap dua bulan sekali. Hasil panen itupun terkadang tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga mereka hingga datang waktu panen berikutnya. Untuk itulah, Sahrim (ibu mereka) membuat usaha kecil dengan membuat serabi dan pencok yang dijajakan setiap pagi di depan SD yang ada di depan rumahnya. Usaha kecil itu juga cukup membantu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga keluarganya namun hasil panen kelapa dan usaha kecil itu tidak bisa digunakan untuk membayar biaya sekolah (SPP) ketiga orang putranya.

Menjual pohon kelapa yang ada dikebunnya adalah satu-satunya jalan yang ditempuh Sa’it untuk melunasi biaya SPP ketiga orang putranya. Setiap datang waktu pembayaran SPP, Sa’it menjual satu atau dua batang pohon kelapa yang ada dikebunnya, itulah sebabnya Sa’it tidak memiliki hutang yang banyak untuk membiayai sekolah putra-putranya. Untuk mengantisipasi supaya dikemudian hari, anak-anaknya punya modal untuk menyekolahkan penerusnya maka Sa’it menanam bibit kelapa di bawah pohon kelapa yang diperkirakan akan habis ditebang unutk membiaya sekolah ketiga orang putranya itu.

Perjuangan Sa’it dan anak-anaknya menjadi catatan yang luar biasa bagi para tetangganya. Banyak orang yang menduga bahwa Sa’it tidak mungkin mampu menamatkan pendidikan ketiga orang anaknya itu hingga sarjana dan bahkan saudara-saudaranya juga kerap mengatakan hal itu kepada Sa’it. Namun demikian Sa’it tidak berkecil hati, bahkan dugaan-dugaan semacam itu ia jadikan sebagai cambuk untuk memotivasi ketiga orang anaknya supaya terus bersekolah hingga mereka sarjana dan Alhamdulillah pada bulan Oktober 2008, putra keduanya (Asri) diwisuda dengan predikat yang lumayan.

Selesai di wisuda, Asri memulai karir sebagai pengerajin beton. Usaha pembuatan lisplang dan pot bunga dari beton memang lumayan, namun itu tergantung pemesan, jika pemesan banyak maka banyaklah uang yang didapatkan dan dari sana ia dapat membantu orang tuanya untuk membiaya sekolah adik-adiknya namun jika pemesan tidak ada maka pendapatannya juga tidak ada. Melihat usaha pengerajin beton yang digelutinya tidak dapat berkembang maka Asri diajak oleh seorang kawannya untuk merintis sekolah di wilayah Bayan. Dengan persetujuan dari orang tua dan saudara tertuanya, pada awal tahun 2009 anak itu berangkat ke Bayan-KLU dan di sana ia bersama beberapa orang kawannya mulai merintis sebuah Madrasah Tsanawiyah.

 

Baca Juga :


Sementara itu, perjuangan Sa’it belum terhenti sampai di sini, Asri memang sudah menjadi seorang perintis sekolah di kabupaten tetangga namun Badri dan Sahlim harus tetap melanjutkan pendidikannya. Pada tahun 2009, Badri tamat SMA dan masuk di Perguruan Tinggi (STKIP Hamzanwadi Selong) sedangkan Sahlim masih duduk dibangku kelas tiga SMK Negeri 1 Selong. Asri belum bisa membantu ayahnya untuk membiayai sekolah adik-adiknya sebab waktu itu ia merintis sekolah dari nol dan ia mengajar tanpa digaji. Namun demikian Sa’it tidak berputus asa, beliau masih punya empat puluhan pohon kelapa yang akan digunakan untuk membiayai sekolah Badri dan Sahlim hingga mereka sarjana. Dimana ada kemauan di situ ada jalan, itulah yang menjadi perinsip Sa’it menyekolahkan anak-anaknya dan ahirnya pada tahun 2010 Sahlim meninggalkan bangku SMK dan dikirim melanjutkan pendidikan ke STKIP Hidayaturrahman yang ada di Menggala-Pemenang-KLU.

Beban Sa’It semakin berat, lebih-lebi pada saat itu beliau sudah mulai sakit-sakitan dan tidak bisa lagi bekerja berat maka satu-satunya harapan untuk membiayai kuliah kedua orang anaknya adalah pohon kelapa-nya yang masih tersisa. Untungnya pada tahun 2010 itu, Badri diangkat menjadi Asisten Dosen dan ia ditugaskan sebagai KOAS di program studi Matematika yang dengan demikian maka anak itu mendapatkan sedikit kompensasi biaya kuliah. Di sisi lain, Asri terus melanjutkan karirnya sebagi perintis dan pada bulan Mei 2010, ia bersama dua orang kawannya mencoba merintis sebuah SMK di wilayah Kecamatan Sembalun-Lotim.

Pohon kelapa Sa’it terus bertumbangan sebab pada setiap triwulan ia harus mengeluarkan biaya kuliah kedua orang putranya. Biaya yang dikeluarkan juga semakin mahal, lebih-lebih Badri dan Sahlim kuliah di tempat yang berbeda. Melihat kondisi itu, pada ahir tahun 2011 Asri meminta Sahlim untuk pindah bangku ke STKIP Hamzanwadi Selong supaya ia satu kos dan satu kampus dengan Badri sebab dengan demikian orang tuanya tidak akan terlalu banyak mengeluarkan biaya, terutama sewa kos. Di tahun itu juga Asri meminta Badri untuk membantunya mengajar di SMK yang ia rintis sebab beban mata kuliahnya sudah agak berkurang, saat itu Badri diberikan beban mengajar sebanyak 6 jam pelajaran yang diisi satu kali dalam seminggu. Asri melakukan hal itu dengan harapan supaya ia bisa membantu orang tunya membiayai kulian adik-adiknya.

Pada awal tahun pelajaran 2012/2013, Asri memasukkan adiknya yang paling kecil yang bernama Sahni di SMK NW Kokok Putik, hal ini dilakukan supaya orang tuanya tidak merasa terbebani. Pada awal tahun pelajaran 2013/2014, Asri memasukkan Sahlim sebagai guru Bahasa Inggris di SMK NW Kokok Putik yang ia rintis pada tahun 2010 lalu, maklumlah Asri memiliki posisi yang kuat di sekolah itu. Singkat cerita, pada pertengahan tahun 2013 Badri dapat menyelesaikan skripsinya dan ia diwisuda sebagai Sarjana Pendidikan Biologi. Selesai di wisuda, Asri membawa adiknya itu tinggal di Kokok Putik untuk membantunya mengurus Yayasan Pendidikan dan Penelitian AL-Assgaf dan mengelola SMK NW Kokok Putik yang ia rintis pada tahun 2010. Selain itu, Asri juga memasukkan Badri sebagai tenaga pengajar di MTs. Maraqitta’limat yang ia rintis pada tahun 2009. Kini, Sa’it semakin bangga dan merasa pelong sebab dua orang putranya sudah menjadi sarjana dan beliau juga sangat bahagia sebab ketiga orang putranya sudah menjadi guru di pertengahan tahun itu.

Beban Sa’it sudah mulai berkurang, mulai pertengahan tahun 2013 itu, beliau hanya akan membiayai kuliah Sahlim yang juga sudah diambang wisuda sedangkan pohon kelapa di kebunnya sudah sangat kurang. Selesai Badri diwisuda, hanya 14 pohon kelapa siap panen yang tersisa dan itulah satu-satunya harapan untuk mengantar Sahlim ke panggung wisuda. Beberapa minggu setelah Badri diwisuda, Sahlim sempat meminta untuk berhenti kuliah sebab ia merasa kasihan melihat kondisi kesehatan ayahnya yang semakin menurun akibat penyakit sesak nafasnya yang semakin kronis. Sa’it tidak menerima alasan tersebut dan tetap memotivasi anaknya itu untuk menyelesaikan kuliahnya yang sudah diambang wisuda dan bahkan beliau berkata “kebahagiaan ayah tidak akan sempurna sebelum ayah mendampingi mu saat diwisuda, ayah juga masih mampu membiayai kamu sampai wisuda, sisa pohon kelapa yang masih ada akan ayah habiskan untuk membiayai mu hingga wisuda”.

Kata-kata beliau itulah yang kemudian membuat Sahlim mengurungkan niatnya untuk berhenti kuliah. Namun sayang, Allah berkata lain. Pada tanggal 22 September 2013, Sa’it harus mengahiri mimpinya untuk menyaksikan wisuda Sahlim sebeb beliau dipanggil oleh Sang Penguasa Alam Semsta. Dengan wajah yang berseri-seri dan senyuman manis dibibirnya, Sa’it pulang ke haribaan Allah SWT. Beberapa hari sebelum beliau menghembuskan nafas terahir, beliau sempat mengumpulkan Asri, Badri dan Sahlim dan pada saat itu beliau berpesan kepada tiga orang putranya supaya dikemudian hari mereke bisa berlaku sabar, jujur dan ikhlas dalam menjalani kehidupan. Beliau juga berpesan supaya ketiga orang putranya itu supaya hidup seperti pohon kelapa yang serba guna “kalian menjadi sarjana sebab pohon kelapa, oleh sebab itu berlakulah seperti pohon kelapa yang serba guna dan tidak ada sedikitpun bagian pohonnya yang sia-sia, bantulah semsa dengan apa yang kalian punya”, demikianlah pesan suci beliau kepada tiga orang putra harapannya.

Sepeninggal beliau, Kadri menjadi tulang punggung keluarga sebab ialah anak tertua Sa’it. Perjuangan sang ayah untuk mengantar adik-adiknya ke panggung wisuda harus dilanjutkan. Dengan sisa pohon kelapa yang masih ada, Kadri melanjutkan perjuangan ayahnya untuk membiayai kuliah Sahlim. Ahirnya, pada tanggal 30 Agustus 2014, Kadri menggantikan ayahnya untuk mendampingi Sahlim di panggung wisuda. Ketika acara wisuda berahir, dengan air mata haru dan bangga Sahlim dipeluk oleh ibu dan saudara-saudaranya, mereka yakin bahwa Sa’it juga hadir di tengah-tengah mereka.

Mimpi Sa’it terlunasi jua, pada tahun 2014 ketiga orang putranya menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Asri sebagai Sarjana Pendidikan Sejarah, Badri sebagai Sarjana Pendidikan Biologi dan Sahlim menyandang gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris. Ketiga orang anak itu kemudian berjuang bersama-sama, mereka berusaha untuk menjadi seperti apa yang dipesankan oleh ayahandanya. Mereka berusaha hidup seperti pohon kelapa yang semua bagiannya memberi manfaat bagi manusia. Saat ini, Asri, Badri dan Sahlim bersama-sama mengelola MTs. Maraqitta’limat Lenggorong dan SNW Kokok Putik, mereka juga mengabdikan hidup untuk membangun kampung halamannya (Dusun Sukamulia) dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial.

Pohon kelapa milik Sa’it yang dulunya berjumlah 68 pohon betul-betul habis ketika Sahlim diwisuda tetapi sesungguhnya pohon kelapa itu masih hidup dan akan tetap hidup sepanjang dunia sebab ketiga orang sarjana yang dicetaknya mengabadikan diri mereka dengan berkarya. Sekolah rintisan mereka sudah memberikan ilmu kepada ratusan orang generasi penerus bangsa dan lebih-lebih setelah mereka mengenal dan bergabung sebagai warga Kampung Media. Ketiga orang sarjana yang dimaksud dalam cerita ini adalah peneglola KM. Sukamulia, pengelola KM. Pohgading Timur dan pengelola KM. Pondok Kerakat. Dengan bergabung sebagai warga Kampung Media maka mereka dapat mengabadikan karya-nya yang berupa tulisan di halaman Kampung Media.

Demikianlah kisah tiga orang anak manusia yang mendapatkan gelar sarjana dengan biaya yang diperoleh dari pohon kelapa buah tangan ayah-nya dan patutlah jika mereka digelari Sarjana Kelapa. Semoga Allah SWT memberikan Sa’it tempat yang layak di sisi-Nya, semoga ketiga putranya bisa menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama, semoga pula mereka tetap diberikan kesempatan untuk berkarya di halaman Kampung Media. [] - 01


_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

10 KOMENTAR

  1. KM. Loco Senggigi

    KM. Loco Senggigi

    22 Januari, 2015

    inilah hidup kawan ku,,,, Allah telah mengtur semuanya dan semoga kita senantiasa dlm rahmat n lindungannya.


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      31 Maret, 2015

      Amin ya robbal alamin...


  2. KM. Sambang Kampung

    KM. Sambang Kampung

    20 Desember, 2014

    Yg jelas ada semangat utk mau menjadi yg terbaik pasti bisa....


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      20 Desember, 2014

      Insyallah pak, untuk itu mari kita terus mrnghidupkan semangat untuk menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik bagi tanah pertiwi yang kita cintai ini. Salam dari Kampung.


  3. KM Kaula

    KM Kaula

    19 Desember, 2014

    dari kisah diatas, maka jelas sesungguhnya yang dibutuhkan bagi orang yang mau sukses baik di dunia pendidikan, bisnis maupun bidang lainnya adalah semangat dan kemaun yang tinggi bukan uang dan harta benda lainnya. sebanyak apapun harta yang dimiliki, sebesar apapun tumpukan uang yang disimpan, jika kemauan tidak ada maka jangankan sampai sarja, SD saja kadang tidak lepas. salut buat orang-orang yang punya kemauan dan semangat yang kuat untuk sekolah termasuk salut juga buat yang nulis kisah-kisah inspiratif seperti ini.


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      19 Desember, 2014

      Benar sekali sahabat,,, sy berharap kisah ini dapat menjadi insfirasi bagi para pembaca agar semakin bersemangat dalam menjalankan usahanya sebab keberhasilan tidak ditentukan oleh uang, melainkan kemauan yang besar dan berlaku ikhlas dalam menerima kodrat n iradat Allah SWT. Terimakasih dan Salam dari Kampung.


  4. KM Pohgading Timur

    KM Pohgading Timur

    18 Desember, 2014

    Alhamdulillah kita bertiga bisa menjadi sarjana atas perjuangan ayah tercinta,,,,, Semoga beliau tenang di sisi-Nya


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      19 Desember, 2014

      Amin ya robbal alamin..


  5. KM. Sajang Bawak Nao

    KM. Sajang Bawak Nao

    18 Desember, 2014

    Mantab broooo


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      19 Desember, 2014

      Trimakasih broo dan Salam dari Kampung


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan