logoblog

Cari

Ku Wujudkan Cita-Cita Lewat Kampung Media

Ku Wujudkan Cita-Cita Lewat Kampung Media

Sebelum saya mengenal halaman Kampung Media, saya bingung sebab saya merasa tidak punya tempat untuk menyalurkan karya-karya saya. Saya juga merasa

Cerita Inspirasi

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
08 Oktober, 2014 17:47:59
Cerita Inspirasi
Komentar: 3
Dibaca: 14187 Kali

Sebelum saya mengenal halaman Kampung Media, saya bingung sebab saya merasa tidak punya tempat untuk menyalurkan karya-karya saya. Saya juga merasa bahwa karya-karya saya yang berupa artikel dan puisi tidak ada guna dan manfaatnya sebab saya tidak bisa mempublikasikannya agar dapat dibaca oleh orang lain.

 Jujur saja, saya adalah sang pemimpi yang sejak kecil bercita-cita supaya saya dapat dikenal oleh dunia dan hidup abadi dalam karya-karya saya. Saya menyadari cita-cita itu sejak saya duduk di bangku kelas lima SD. Saya tetap memelihara cita-cita itu hingga saya duduk di bangku kelas tiga SMA. Cita-cita yang begitu besar itu sepertinya sulit untuk saya gapai sebab saya hanyalah anak kampung yang terlahir dari keluarga yang menggantungkan hidupnya pada sebidang tanah pertanian yang penghasilannya tidak begitu besar.

Menyadari hal itu maka saya seolah-olah tidak punya harapan lagi untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita yang terlalu tinggi itu. Ahirnya saya putuskan untuk tidak lagi bermimpi dan bercita-cita supa dapan dikenal oleh dunia dan hidup abadi dalam karya-karya saya.

Tidak ada hal yang dapat saya banggakan dalam hidup saya. Cita-cita besar saya harus saya lupakan sebab keadaan perekonomian keluarga saya tidak akan mungkin membuat saya dapat menggapai cita-cita tersebut. Waktu itu saya berpikir, jika ingin menjadi orang terkenal maka saya harus bisa membuat karya sastra, bermain musik, bernyanyi dan atau pandai bermain akting.

Lalu saya juga berpikir dari mana saya akan mendapatkan uang supaya saya bisa belajar untuk jadi seorang sastrawan, bermain music, belajar bernyanyi dan atau belajar bermain derama sebab saya merasa bahwa jika saya ingin mencapai cita-cita itu, ea setidaknya saya harus bersekolah atau berkelana ke Ibukota Negara Indonesia (Jakarta).

Ah…. Ruet pokoknya. Dalam segenap kebingungan itu saya ahirnya menamatkan pendidikan di bangku SMA. Setelah tamat SMA, saya memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah sebab perekonomian keluarga saya semakin merosot. Saya tidak mau melihat kedua orang tua dan kakak tertua saya lelah, peras keringat dan banting tulang demi menguliahkan saya. Saya memilih untuk tidak kuliah sebab saya berpikir “percuma saya kuliah jika nantinya cita-cita saya yang paling utama tidak dapat tergapai, lebih baik saya bekerja sebagai petani saja, membantu orang tua saya untuk membiayai sekolah empat orang adik saya.

Ayah terus saja memaksa saya supaya kuliah sebab beliau tidak mau melihat saya keluyuran terus dengan teman-teman yang tidak karuan. Ahirnya saya minta untuk kuliah di Bali. Saya berencana untuk melanjutkan studi di sekolah seni. Ayah mengizinkan saya dan ahirnya saya pergi Tes UMPTN namun nasib memang sudah dikandung badan, saya tidak lulus untuk melanjutkan setudi pada perguruan tinggi yang mungkin dapat mengantarkan saya untuk menggapai cita-cita saya itu.

Keinginan saya untuk tidak melanjutkan studi semakin kuat dan itu saya ungkapkan kepada kedua orang tua dan kakak tertua saya. Namun mereka tetap saja memaksa saya untuk kuliah dan ahirnya saya harus kuliah di STKIP Hamzanwadi Selong dengan mengambil Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Progarm Studi Pendidkan Sejarah.

Karena didasari oleh motivasi yang kurang maka saya-pun kuliah-kuliahan. Lebih banyak tidak masuk dari pada masuknya. Saya merasa cita-cita dan bakat seni saya tidak akan pernah tercipta sebab saya kuliah pada perguruan tinggi yang berlebel pendidikan. Padahal saya sangat malas untuk menjadi seorang guru atau terlibat dalam dunia pendidikan.

Waktu terus berlalu ahirnya saya masuk di semester tua, namun gambaran untuk cita-cita saya belum ada sama sekali. Saya kemudian mencoba belajar menulis puisi dan cerpen bernuansa cinta. Ketika saya sudah mencapai smester lima, saya bersama kawan-kawan mencoba menyalurkan bakat seni berpuisi dan seni akting dengan membentuk sebuah komunitas teater yang kami beri nama Comunity Teater Of Lotim (CTL). Satu tahun berjalan, CTL-pun bubar. Karena saya merasa gagal maka puisi dan beberapa cerpen yang sudah saya tulis kemudian saya bakar sebab saya sudah merasa bahwa karya-karya kecil itu tidak mungkin dapat saya publikasikan.

 

Baca Juga :


Hingga saya di wisuda dan dihadiahkan nasib untuk menjadi guru di salah satu MTs. Swasta yang saya rintis dengan kawan-kawan di wilayah Lombok Utara pada tahun 2008, jiwa seni saya hampir mati. Saya tidak pernah berkarya dan hanya focus pada urusan sekolah saja. Jujur saja saya tidak begitu mengenal internet. Saya mengenal internet mulai dari tahun 2013 dan itupun hanya sebatas bisa buka Fb sekali semasa dan itupun karena saya diajari oleh adik saya.

Cita-cita kecil saya sudah hampir terlupakan, namun saya dipertemukan dengan seorang jurnalis sebuah Komunitas. Kepada beliau saya bercerita tentang cita-cita yang sudah hampir saya lupakan itu. Ahirnya beliau mengajak saya untuk bergabung menjadi anggota Komunitas jurnalis yang beliau kelola dan di sana saya ditugaskan untuk menjadi penulis puisi.

Beberapa bulan berkecimpung di komunitas itu, ahirnya saya diberikan kartu wartawan oleh pengurus Komunitas dan sejak ahir tahun 2009 saya mulai belajar menjadi seorang wartawan. Hanya saja sistem penulisan di halaman Komunitas itu membuat saya kecewa. Bagaimana tidak, saya aktif membuat puisi dan kadang-kadang juga mengirim berita ringan. Puisi dan berita ringan itu saya kirim melalui SMS dan pengurus Komunitas yang kemudian mempublikasikannya di halaman Komunitas dan bahkan tidak jarang puisi-puisi saya dicetak di halaman koran.

Hal yang membuat saya kecewa adalah masalah hak cipta. Memang sich saya belum memiliki hak cipta atas puisi-puisi saya namun paling tidak ketika dipublikasikan di internet atau ketika dicetak di halaman koran, puisi-puisi itu ditaruhin nama penulis/penciptanya supaya para pembaca mengetahui siapa yang membuat puisi atau tulisan itu.

Setiap puisi saya yang ditampilkan di halaman internet atau di halaman koran selalu ditaruhin nama pengurus komunitas sebagai penulis/penciptanya. Dengan demikian saya merasa ciptaan saya diperkosa dan dikelaim sebagai karyanya sendiri. Namun saya bukanlah orang yang suka ribut atau protes-protesan makanya saya diam-diam untuk keluar dari komunitas itu.

Sejak awal tahun 2010 saya berhenti menulis dan hanya focus di dunia pendidikan saja, lebih-lebih setelah saya bersama kawan-kawan mulai merintis SMK di wilayah Kecamatan Sembalun. Hingga awal tahun tahun 2014, saya tidak pernah membuat puisi dan bahkan saya lupa akan cita-cita itu dan pada bulan Mei 2013 Allah mempertemukan saya dengan Warga Kampung Media yang kemudian memberikan saya informasi mengenai Kampung Media. Mendengar informasi itu maka saya langsung bergabung dan menuangkan ide serta inspirasi saya di halaman Kampung Media.

Luar biasa,,, setelah mengenal dan bergabung menjadi warga Kampung Media, saya merasa menemukan tempat untuk menuangkan ide dan inspirasi. Saya merasa punya tempat yang menuangkan cita-cita yang selama ini menjadi PR terbesar saya. Saya juga merasa impian saya menjadi penulis telah terjawab. Eaaa meskipun tulisan-tulisan itu tidak begitu menarik untuk dibaca oleh warga Kampung Media, namun paling tidak karya-karya saya itu bisa dipublis dan tersimpan rapi di dunia maya. [] - 01

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

3 KOMENTAR

  1. lia hyda KM. CAKRANEGARA

    lia hyda KM. CAKRANEGARA

    25 Februari, 2017

    tulisan yang menginspirasi


  • KM Pohgading Timur

    KM Pohgading Timur

    08 Oktober, 2014

    lanjutkan semoga cita-citanya tercapai bro!


  • KM. Serambi Brangrea

    KM. Serambi Brangrea

    08 Oktober, 2014

    perjalanan panjang namun berakhir pada tujuan yang selama ini diimpikan.....selamat!!!!!!!!!!!


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan