logoblog

Cari

Potret Kelam dan Asa Ku Sebelum Mati

Potret Kelam dan Asa Ku Sebelum Mati

Selayang pandang ku renungi dunia ku yang penuh asa. Jutaan asa selalu terngiang dalam benak tetapi selalu saja ia tersingkirkan di

Cerita Inspirasi

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
03 Juni, 2014 12:10:13
Cerita Inspirasi
Komentar: 1
Dibaca: 21630 Kali

Selayang pandang ku renungi dunia ku yang penuh asa. Jutaan asa selalu terngiang dalam benak tetapi selalu saja ia tersingkirkan di tepi malam. Kadang rasa jengkel tertuju kepada Tuhan, tetapi apa boleh buat aku tidak pernah bertemu dengan Tuhan ku. Pasrah bukanlah sifat ku, namun sesungguhnya aku adalah manusia lemah, tidak berkekuatan untuk melawan nasib yang digariskan Tuhan.

Aku hanyalah orang terbuang dari alam yang terang, terseret pada kelamnya hidup yang tidak kian bertepi. Rasa kelam selalu menjegal pada pelupuk hati ku tetapi sebenarnya aku tidak tahu sebab apa semua ini harus aku rasakan.  Apa karena hati ku jauh dari cahaya tuhan ataukah aku memang orang yang selalu bersahabat dengan kelam pada dunia yang semakin renta.

Suratan takdir memang tidak boleh disalahkan hanya saja aku berfikir bahwa itu harus aku tentang. Aku hanyalah seekor serigala yang bodoh, aku hanyalah seekor harimau yang ompong taringnya, aku hanyalah seeskor naga yang patah sayap-sayapnya.

Kebodohan ku sungguh benar-benar nampak dari kelamnya nasib yang harus selalu ku jalani. Aku memang benar-benar bodoh sebab aku tidak pernah bisa untuk menaklukkan seekor semut di dalam genggaman ku. Aku tidak pernah bisa menak lukkan rasa pengap, takut dan terbuang di tepi waktu.

Asa hanyalah sebatas keinginan yang selalu terlintas dalam pengapnya otak ku sebab aku hanya bisa membuat asa namun tidak bisa berkarya. Hitam awan pasrah ku jilati kusam ku dekap dengan muak ku lelap.

Malam adalah teman yang abadi buat ku sebab hingar pagi membuat ku gentar menuang asa. Setiap saat aku merasa hidup ku benar-benar sulit, terapung di dalam lautan, terseret oleh arus dan ditimang oleh angin. Aku dibuai oleh asa yang tidak pernah bisa tercapai.

Aku tidak bisa menyalahkan waktu sebab aku sadar bahwa diri dan hidup ku dipenuhi oleh kenistaan. Aku benar-benar sadar bahwa aku memang patut dihuni oleh kenistaan dan kenestapaan karena aku adalah seorang pembual dosa yang kini telah sadar sebab usia sudah beranjak tua.

Beribu hari aku sia-siakan untuk sesuatu yang nampak indah dalam pandangan mataku namun sebanrnya sia-sia dan hanya menumpuki aku dengan gunungan dosa. Beribu-ribu malam aku luangkan menimang gelapnya dunia yang penuh noda, ratusan pagi aku gunakan untuk mencurahkan nafsu iblis yang bercokol dalam pusaran hati dan ubun-ubun ku. Aku hanya menuruti nafsu birahi kebinatangan ku. Hidup ku seperti di dalam hutan, tidak ada yang mengekang dan tidak ada hukum yang menjegal, padahal aku tidak sadar Sang Maha Tunggal selalu mengawasi di setiap untaian waktu yang ku jalani.

Sekali lagi aku sadar hidup ku benar-benar seperti di dalam hutan tanpa memikirkan aturan dan hukuman, padahal aku tidak sadar bahwa kesenagan, kepuasan, dan kelihaiyan dunia telah menipu ku. Wanita aku anggap hanyalah seonggok sampah yang bisa aku buang begitu saja padahal mereka juga manusia yang butuh kasih dan sayang tetapi itulah aku seorang pembual dosa yang patut dibenci dan dicaci oleh alam dan semua isinya.

Aku benar-benar nista, tetapi tidak satupun orang yang bisa menerawang betapa kelam hatiku yang sebanarnya. Hingga datanglah seorang bidadari yang bisa membangunkan ku dari mimpi kelam ku. Ia menyeret dan menekuk aku dengan kasih sayang dan hatinya yang lembut. Bidadari itu dapat menaklukkan kebinalan ku. Ia mampu melunakkan taring-taring ku hingga aku sadar dan berlutut menyerah di hadapannya. Hanya saja bidadari itu datang membawa cinta dan cintanya tidak bisa ku miliki sebab perbedaan kasta.

Ketika aku berada pada masa remaja yang sekarat barulah aku mengerti arti cinta, apa artinya hidup, apa artinya kehinaan dan kesia-siaan. Kini aku hanya bisa mendekap awan, menantang matahari dan mengarungi siang malam dengan menggenggam penyesalan yang tidak bisa dipikul oleh kilatan halilintar.

Segala asa aku tabur dengan benih-benih cinta dan kedamaian namun asa itu selalu dijegal oleh waktu. Mungkin ini adalah balasan atas kelamnya dunia ku di waktu siang dan kini ketika senja menghampiri, aku menghiba dan meratap menyesali siang ku yang telah terlewatkan dengan hamparan benih hitam dalam dunia bergelimang noda. Kini ratapan itu semakin keras,,,kerasnya melebihi suara gelegaran halilintar yang memecah kesunyian.

154

 

Baca Juga :


Akulah serigala hutan yang lapar dan dahaga akan kedamain dan kesucian namun mungkinkah itu kudapatkan. Air mata ku mengalir seperti api dan derasnya sudah menghancurkan segenap rimba di pusaran hati. Aku bergerak di antara kenestapaan dan penyesalan. Tebing-tebing kehidupan yang aku daki sudah terlalu terjal, jurang-jurangnya terlalu dalam untuk aku masuki, gua-guanya terlalu gelap untuk aku huni, sungainya terlalu deras untuk aku sebrangi, lautannya terlalu bergelombang untuk aku arungi. Begitu pula gunung-gunungnya yang terlalu tinggi untuk aku daki.

Namun, semangat ku untuk kembali menuju jalan Tuhan membuat ku harus menantang semua kesulitan itu. Aku punya keyakinan di seberang lautan, diujung sungai, di dalam jurang, di kegelapan gua dan di puncak gunung ada istana yang harus aku dapatkan demi menebus kelamnya hidup ku di masa lalu dan demi membahagiakan orang yang telah menyelamatkan aku dari jurang kesesatan.

Aku tidak perduli walau aku harus terseret arus, tergelincir dan jatuh ke dalam jurang yang dalam, meski aku harus hanyut terbawa arus lautan, ataupun aku harus tertusuk onak dan duri. Aku tidak perduli walau aku harus menjerit dan meraung-raung karena rasa sakit yang begitu pedih menyiksa tubuh ku, aku tidah perduli meski nyawa ku harus terputus di tengah perjalanan, asalakan aku dapat membahagiakan orang-orang yang menyayangi ku dan demi menebus dosa ku di masa lalu.

Aku sadar wahai sang alam yang penuh dengan kegemerlapan, akau sadar ya.. aku benar-benar sadar engkau telah menipuku di masa lalu dan akan ku balas dengan menggapai kegemilangan untuk mereka yang menyayangi ku. Aku juga sadar wahai Tuhan Pengusa Alam, aku hanyalah buih yang bisa diterbangkan kemana saja, aku ibarat debu yang dapat tersapu kemanpun arah angin berlalu. Dan jikapun kegemilangan tidak bisa aku gapai aku tidak akan menyesali perjuangan ku sebab yang mengatur jalan ku adalah engkau Ya.. Ilahirobbi.

Saat ini aku terbuai dengan jalan hidup ku, aku curahkan semuanya walau itu hanya secuil dalam untaian kata-kata yang sengaja aku buat untuk diriku dan untuk engkau sahabat-sahabat ku. Aku berharap kalian tidak seperti aku yang pernah terjerat pada dunia hitam. Aku tuangkan semua ini dengan kata-kata yang mungkin bisa difahami oleh bintang yang menatap ku dengan geram, rembulan yang menyirami ku dengan cahaya dendam, udara malam yang membelai tubuh ku dengan kemarahan dan serangga malam yang membisingi telinga ku dengan penuh kebencian atas kelihaiyan ku menghianati Tuhan di masa silam.

Kawan, ku tulis kisah ini sebab benak ku sudah tidak dapat menyimpannya. Aku jeritkan semuanya kepada alam. Lalu aku menghiba dan memohon kepadanya, Sang Penguasa Terang dan Kegelapan. Wahai Dzat Yang Menguasai Hati setiap insan… selimutilah jiwa ku dengan kedamain yang kerap Kau berikan kepada kekasih-kekasih Mu. Lalu di balik bukit aku bersandar menunggu masa sambil beruasaha memejamkan mata, menulikan telinga dan membisukan mulut ku yang terlalu lebar supaya aku dapat menuai mimpi dalam lelapnya alam yang mendendam ku.

Ketika udara malam dan nyanyian serangga hutan mendendangkan kedamaian dan mengantar para pemimpi untuk menuai asa mereka. Aku terus bertanya, sampai kapan harus begini.. entahlah... entah aku tidak tahu atau memang harus tetap terkurung dalam kepedihan hingga malaikat maut datang menggendong nafas ku menuju singgasana yang telah aku hilangkan  kakinya. Tetapi aku berjanji, esok hari akau akan berusaha berdiri dibawah langit. Di atas bumi ku tumpukan kaki, bibir ku akan tetap menyanyikan cinta sampai wajah dunia tidak murung lagi menatap ku.

Aku akan berusaha bernyayi di mata hari dan memetik gitar di rembulan sebab kesedihan hanyalah sebuah kebodohan. Penyesalan hanyalah sebuah pembodohan dan aku tidak mau bodoh untuk kedua kalinya. Lalu aku akan berseru pada diri ku..HIDUP HANYA SEKALI, JANGANLAH ENGKAU HIDUP TANPA ARAH DAN TUJUAN SERTA JANGANLAH ENGKAU MATI DALAM KERAGU-RAGUAN.

Demikianlah potret kelam hidup ku dimasa lalu yang menjadi cambuk bagi asa ku untuk bangkit dan dan selalu tegar menuju jalan Tuhan. Semoga ini dapat menjadi pelajaran terbaik bagi diri ini dan bagi anak-anak yang akan menjadi penerus hidup ku ini. Sebelum nyawa ini dijemput dan dikembalikan ke tempat yang disediakan oleh Ilahirobbi, aku mencoba untuk perbaiki diri. Meninggalkan masa lalu yang kelam dan berusaha untuk meniti asa yang baik di masa depan. Aku berserah kepada Takdir Mu ya... Ilahirobbi, semoga asa ku ini dapat Dikau Ridhoi. [] - 05

by. Asri, S. Pd



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. KM Kaula

    KM Kaula

    04 Juni, 2014

    matab........, Engkau adalah Gusmus (KH Mustafa Bisri) nya Lotim tuangkan terus kreatifitasmu di Kampung Media InsyaAllah pembaca setiamu sudah menunggu karyamu berikutnya.


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan